Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 12

Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 12

Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 12 Gratis Full Episode PDF– Mau baca novel terbaru, namun kali ini kamu belum punya ide novel apa yang harus dibaca?

Tenang saja! kamu kini bisa membaca novel online gratis melalui aplikasi novel digital maupun situs web yang menyediakan layanan membaca novel secara online dengan gratis dan juga yang berbayar.

Kini telah tersedia beragam aplikasi baca novel online yang menyediakan novel secara gratis dan bisa kamu gunakan untuk membaca novel contoh diantaranya seperti, Allnovel, MangaToon, NovelMe, NovelToon, Wattpad, Dreame dan masih banyak lagi.

Baru-baru ini ada sebuah novel karya rita febriyeni yang lagi viral dan populer menjadi best seller, sehingga banyak diminati dan dicari para pecinta novel. Judul novel yang bagus ini adalah Hinaan Dari Keluarga Suami Part 12.

Jika kamu penasaran dengan novel ini maka kami akan membagikan link dan cara baca untukmu secara gratis.

Nah, Kali ini SenjaNesia akan bagikan link baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 12 karya Rita Febriyeni secara gratis dan lengkap.

Deskripsi Novel

Judul: Hinaan Keluarga Suami Part 12
Penulis: Rita Febriyeni
Penerbit: Fizzo
Genre: Drama
Bahasa: Bahasa indonesia

Sinopsis Novel Hinaan dari Keluarga Suami

Mereka menghina Rina karena hanya tamat SMP. Tak berpendidikan tinggi bukan berarti bodoh. Rina yang punya bakat menulis cerita, dim-diam terus belajar melalui grup literasi hingga dia bisa menjadi penulis top di beberapa aplikasi novel online, dan menghasil uang hingga berubah hidupnya. Bagaimana tanggapan mertua dan ipar yang dulunya menghina?

Baca Juga: Novel Mahabbah Cinta Ustadz Tampan

Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 12 (Tak Diakui)

Ya, aku yakin pemuda bernama Kelfin ini adalah yang ada di foto status facebook Stela. Barusan kulihat dan ingatanku masih segar. Tapi, kenapa ia bersama Yana?
“Mbak Rina, kenalkan ini temanku atau anak dari bos aku.” Yana menepuk pundakku hingga aku tersentak.
“Oh! Iya,” jawabku gugup. Lalu kusambut uluran tangan Kelfin.
“Aku Kelfin, Kak Rina,” ucapnya ramah.
“Oh, silahkan duduk, Kelfin.”
“Tidak usah, Kak, lain kali saja. Aku terburu-buru karena mau ngantarkan Mama ke dokter,” tolaknya.
“Oh gitu. Lain kali duduk dan minum kopi dulu, ya,” ujarku sekedar basa basi.
“Pasti, Kak. Permisi.” Kutanggapi mengangguk kecil sambil tersenyum.
“Aku balik dulu, Yan,” ucapnya ke Yana.
“Makasi Kak Kelfin,” jawab Yana. Lalu mereka saling melempar senyum sesaat.
Lalu Kelfin menoleh ke mas Bayu untuk berpamitan.
Kami memandangi mobil Kelfin menjauh dan hilang dari pandangan. Kualihkan mata ke Yana, ia menyadariku menatapnya, mukanya langsung merah lalu segera ingin berlalu.
“Tunggu, Yan.” Kutahan tangannya.
“Mbak mau nanya tentang Kelfin? Ia anak dari pemilik laundry tempatku bekerja. Kami hanya berteman. Udah itu aja.” Yana menjelaskan seakan mengerti dengan maksud yang ingin kutanyakan. Namun, bisa kulihat ia menyukai Kelfin.
“Ayok, Mbak mau bicara.” Kutarik tangan Yana menuju rumah. Sengaja menjauh dari mas Bayu karena tak mau ia ikut mendengar, apa yang ingin kukatakan. Ini ada sangkut paut dengan Stela di foto facebook.
“Ada apa sih, Mbak?”
“Ayo sini.”
“Mas, aku ke belakang bentar,” ucapku ke mas Bayu saat berlalu.
“Ya, Rin,” jawab mas Bayu sambil melayani pembeli yang baru datang.
Kini, kami sudah berada di ruang tamu. Aku mengajak Yana duduk berbicara. Rasanya tak sabar ingin membahas ini karena menyangkut adik iparku.
“Ya Allah, Mbak …, kok serius amat? Ada apa sih?”
“Oke, lihat ini.” Lalu ponsel kurogoh dari saku. Membuka facebook dengan akun baru. Langsung melihat status foto Stela.
“Ini Kelfin, kan?” Kusodorkan ponsel ke Yana.
Ia menerima ponselku, lalu matanya fokus ke layarnya. “Iya, itu Ibunya atau bos aku, Mbak,” jawab Stela santai. Tak terlihat ia terkejut karena ada Stela di foto itu.
“Kelfin pacarnya Stela?”
“Hah? Masak iya, Mbak?” Yana balik bertanya.
“Mbak nanya, Yana.”
“Mana aku tau, Mbak. Lagian kayaknya nggak deh. Hanya Stela sering ke rumah Kelfin bersama temannya yang lain.”
“Jadi kamu sering bertemu Stela di rumah Kelfin?” Mataku membulat.
“Iya, saat aku tegur ia sok nggak kenal aku. Mungkin malu karena aku hanya kerja di laundry.”
“Tapi kok Stela sering ke rumah Kelfin?”
“Mereka satu kampus, Mbak. Bukan Stela aja, tapi banyak temannya yang lain juga kok.”
Entah alasan apa Stela tak menyukai Yana. Setiap kali bertemu adikku, ia selalu menatap sinis. Bertemu diluar pun pura-pura tidak kenal. Apakah karena kondisi kami hingga ia malu.

BACA JUGA:  Novel ISTRI TAK DI INGINKAN

Matahari hampir bersembunyi. Sebentar lagi magrib. Hari ini jualanku tak habis. Tapi syukurlah, jualan keliling bapak habis. Bapak pun pulang dengan senyum senang. Untuk hari pertama cukup lumayan. Alhamdulillah.
“Sepertinya jualan keliling lebih laris dari pada berdiam di sini, Rin,” ucap mas Bayu sambil menyuapi Raka makan.
“Tunggulah dulu, Mas. Kondisimu belum memadai,” jawabku sambil melipat baju.
“Aku merasa tak enak berdiam di rumah, sementara Bapak jualan keliling.”
Tanganku terhenti bekerja, lalu melihat mas Bayu. Ia masih merasa seakan tak berguna hingga sangat sensitif. Padahal kami sudah berusaha agar ia tak berkecil hati dan tetap semangat. Namun kenyataanya tak semudah ucapan.
“Mas, besok aku coba cari becak motor. Dengar-dengar dengan harga tiga atau empat juta saja sudah bagus. Kita pergi jualan dengan becak itu, Raka bisa kita dititip ke Ibu untuk sementara. Mungkin kita harus mencari pelanggan. Mana tau ada yang ingin pesan buat hajatan.”
Entah kenapa ada ide ini terlintas. Niatku hanya ingin membuat mas Bayu bersemangat. Jika ia ikut dalam berusaha mencari uang, mungkin percaya dirinya kembali karena merasa menjadi suami yang berguna. Mudah-mudahan ideku benar.
“Iya, Rin. Aku pernah lihat becak motor matic, lagian mengendarainya mudah biarpun kakiku hanya satu, cukup mengendalikan rem tangan saja. Tapiii, kamu punya uang buat belinya nggak?”
“Ada, besok pagi kita cari, Mas,” jawabku tanpa ragu. Akhirnya ia tersenyum senang.
Memulihkan mental mas Bayu tak semudah membalikan telapak tangan. Tekanan dari keluarga hingga ia dihina karena cac*t, sangat membuatnya tertekan. Aku sebagai istri harus bersabar dan kuat. Jika bukan aku siapa lagi? Di sini, aku dituntut harus lebih kuat mental. Dan Alhamdulillah, karena sering membaca cerbung dari banyak penulis, banyak juga ilmu yang kudapat.


Malam semakin larut. Semua sudah tertidur dan aku masih memegang ponsel mengetik bab lanjutan dari cerbungku. Dari kisahku ini, kuberanikan menulis satu cerita baru dan Alhamdulillah lumayan bayak yang membaca. Ada komentar yang menguatkan dan ada juga yang mengolok. Tak sedikit dari mereka mengatakan jika yang kutulis adalah kisah hidupku. Itulah pembaca, pintar dan jeli.
“Diam! Diam ….”
Aku tersentak mendengar mas Bayu mengigau. Ketikanku terhenti melihatnya. Ya Tuhan, kenapa mas Bayu mengeluarkan air mata dalam tidur.
“Diam ….” Kali ini mas Bayu terisak. Seperti menyuruh seseorang diam hingga hanya kata itu yang berulang kali diucapkan.
“Mas, Mas.” Kusentuh lengannya untuk membangunkan. Rasanya sedih melihat air matanya tumpah meskipun itu hanya mimpi.
“Mas.” Tak kunjung bangun, kutepuk pelan pipinya. Lalu ia membuka mata. Terpana sesaat, lalu mengucek matanya.
“Aaah, ada apa, Rin?” tanyanya seperti baru menyadari.
“Mas kenapa menangis?”
“Hah?” Ia tampak heran sambil menyeka air mata di pipi. Apa ia baru sadar jika air matanya tumpah.
“Mas mimpi apa?” tanyaku lagi.
“Mm, nggak ada, nggak tau, Rin. Aneh ya, kok mimpi bisa menangis.” Mas Bayu tertawa kecil. Apakah ia tak mau cerita atau betul-betul lupa. Entahlan, aku tak ingin memaksanya menjawab.
“Baca do’a, Mas. Lanjutkan tidurmu, besok jika becak motor itu kita dapat, aku butuh tenagamu menemaniku jualan keliling. Lagian jika kita jualan keliling, sepertinya menyenangkan, bisa jalan-jalan dan ini mengingatkan saat kita pacaran dulu.”
“Iya, aku ingat saat jemput kamu pulang kerja di rumah makan Padang. Kita keliling dengan motor setelah makan bakso. Tapi sayang, motor itu sudah kita jual, Rin.”
Kenangan sederhana tapi membekas indah di hati. Justru saat itu aku sangat bahagia. Seorang wanita yang hanya tamat SMP disukai seorang mas Bayu yang tamat D3. Bahkan ia membuktikan melamar dan aku merasa sangat beruntung.
“Insya Allah nanti kita bisa beli lagi. Aku yakin suatu saat Mas bisa membelikanku sesuatu yang sangat kubutuhkan. Asal, Mas tidak menyerah dengan nasib. Insya Allah, aku hanya ingin kamu suamiku seorang.”
Mas Bayu langsung memelukku. Dapat kurasakan betapa ini yang ia butuhkan. Dukunganku sebagai istrinya.
“Terima kasih, Rin, terima kasih.”
Mas, aku tahu. Seandainya kamu masih punya kaki lengkap dan juga masih punya pekerjaan, aku yakin, kamu tak akan mengabaikan tanggung jawab. Aku tahu kamu lelaki baik yang jadi jodohku.
Ini ujian hidup. Aku sudah terbiasa hidup kekurangan. Mungkin karena inilah aku lebih kuat mental. Beda dengan mas Bayu yang dulunya punya karir bagus dan dari keluarga menengah ke atas. Tapi setelah ayahnya meninggal dan mas Bayu tak lagi punya pekerjaan, ibunya terpakasa buka warung depan rumah. Alhamdulillah suamiku bisa membantu modal usahanya.

BACA JUGA:  Novel Cinta Beda Frekuensi

Hari ini aku tidak buka warung. Seperti janjiku semalam. Pagi ini ingin mencari becak motor bersama mas Bayu. Biar besok kami juga bisa jualan keliling. Dengan begini, mas Bayu merasa lebih berguna. Semoga.
“Mau cari becak motor matic?” tanya bapak.
“Iya, Pak. Biar nanti aku dan mas Bayu yang jual keliling, Bapak dan Ibu yang jaga di sini, tapi buka warung kebutuhan harian aja, Pak. Biar nggak capek,” jawabku.
“Tapi Bapak masih kuat jualan keliling. Biar Bayu di sini aja.”
“Pak, aku saja yang jual keliling. Tahap awal mungkin bersama Rina. Tapi setelah itu, nanti biar aku saja yang jual keliling sendirian, Rina jaga Raka di rumah, Ibu Bapak yang jagain warung. Aku yakin bisa, Pak.” Mas Bayu tampak semangat bicara. Ibu dan bapak langsung beradu pandang. Aku tahu pasti orang tuaku senang melihat suamiku kembali ceria.
“Ibu setuju dengan ide Bayu. Nanti jika Bapak mau jualan keliling dengan sepeda juga nggak masalah, biar Ibu jagain warung. Iya, kan, Pak?” tanggap ibu melihat ke bapak.
“Iya, betul, Bu,” jawab bapak setuju.
“Carilah becak motor itu, Bay, jangan buang waktu. Raka biar Ibu dan Bapak yang jaga.”
Di sini, aku beruntung terlahir dari orang tua yang sangat pengertian. Dukungan mereka menunjukan betapa suamiku sangat dihargai. Bahkan mereka sangat mengerti kondisi mas Bayu yang sangat membutuhkan semangat dari lingkungan. Itulah yang membuat mas Bayu tampak nyaman di sini.


Dari informasi seorang kenalan bapak. Becak motor itu bisa dibeli di bengkel-bengkel kecil. Ini motor matic tahun rendah yang dimodifikasi menjadi becak dengan roda tiga. Alhasil, kami harus menunggu karena sedikit ada tambahan untuk atap, agar jualan terlindung dari hujan dan panas matahari.
“Mas, kita cari makan dulu. Lagian ini sudah siang.”
“Makan di rumah saja, Rin, biar hemat biaya. Aku takut uangmu banyak terpakai.”
Inilah suamiku. Rasa sungkan karena biaya makan kutanggung. Padahal aku tak perhitungan karena kami suami istri. Lagi, mas Bayu merasa dirinya rendah atau kurang percaya diri.
“Mas, aku lapar. Jika pulang kejauhan dan tanggung becaknya ditinggal. Pokonya Mas jangan pikirkan biaya makan. Bukankah kemarin untung jualan kita lumayan.”
Sebenarnya belum untung. Hanya balik modal saja. Tapi aku berusaha membuat suamiku senang. Berbohong demi kebaikan apa salahnya.
“Loh, bukankah jualan kita nggak habis, Rin?”
“Iya, tapi masih ada untungnya sedikit.”
Mas Bayu terdiam seperti berpikir. Mungkin menganalisa perkataanku. Aku tahu ia tak bodoh. Namun jika masalah jual masakan, aku yakin ia tak bisa menghitung rugi labanya. Karena ini bukan bidang yang dikuasainya.
“Ayok, Mas. Aku lapar nih.” Aku bangkit berdiri lalu menarik tangannya.
“Iya iya.” Lalu ia berusaha berdiri dengan tongkat.
Kami berjalan ke seberang jalan raya. Ada rumah makan tak jauh dan itu tujuan kami. Seandainya penghasilan menulisku masih banyak, nanti akan kubeli kaki palsu agar mas Bayu kembali percaya diri. Ya, aku harus tetap berusaha. Untuk sementara uangku belum cukup membelinya.
“Rina, sebaiknya kita beli nasi bungkus saja. Satu bungkus bisa dimakan berdua, dari pada duduk di rumah makan.”
“Duduk di sana aja, Mas. Biar puas milih lauknya.” Aku tahu, mas Bayu masih memikirkan menghemat biaya.
“Kita beli nasi satu bungkus aja, Rin. Nanti kita duduk di bawah pohon itu makan.” Mas Bayu menujuk pohon yang kami lewati.
“Tapi, Mas. Kalau bisa makan duduk di dalam kenapa harus di bawah pohon tepi jalan?”
“Nggak usah mikirin dilihat orang. Yang penting uangmu tak banyak keluar.”
Tuh kan, aku benar. Mas Bayu hanya ingin menghemat biaya keluar. Namun jika aku memaksa lagi, ujung-ujungnya kami berdebat. Lagian makan sebungkus nasi di bawah pohon tepi jalan juga tak salah.
Kini, kami sudah depan rumah makan. Saat ingin masuk, tiba-tiba ….
“Mas Jaka,” sapa mas Bayu pada salah satu lelaki yang keluar dari rumah makan ini.
Mas Jaka terpana melihat kami. Tadinya ia tertawa bersama dengan tiga orang temannya, tiba-tiba terdiam.
“Kenal, Bro?” tanya salah satu temannya.
“Mmm, nggak lah,” jawab mas Jaka.
Deg!
Wajah mas Bayu langsung berubah. Tadinya ia tersenyum bertemu kakaknya, tiba-tiba sedih mendengar pengakuan saudara kandungnya itu.
“Trus dari mana ia tahu namamu, Bro?”
“Mm itu, mm, itu karena ini.” Lalu mas Jaka mengeluarkan uang lima ribu dari sakunya. Ia melangkah mendekati kami. “Ini, Mas.” Ia menyodorkan uang itu pada mas Bayu.
“Aku sering beri sedekah pada mereka. Mungkin karena itu mereka merasa berterima kasih hingga tau namaku. Yaaa beginilah jika berbuat baik, tak perlu berkenalan pasti juga dikenal.” Dengan bangganya ia berucap seolah aku dan mas Bayu adalah pengemis.
Mas Bayu masih terdiam menundukkan wajah. Pasti ia merasa rendah dan ini yang paling kutakutkan.
“Ooh, kirain kenalanmu, Bro.”
“Nggaklah, lagian aku mana ada kenalan seperti mereka.” Ia malu mengakui kami. Oke, aku tak bisa diam jika dihina. Lagian hidupku tak tergantung dia.
Kuambil uang yang disodorkan mas Jaka, lalu kulempar ke wajahnya.
“Uh! Ambil uangmu, aku tak butuh!” ucapku tegas hingga semua mata tertuju padaku.

BACA JUGA:  Novel Arabella Secret

Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Full Episode

Bagaimana kisah cerita selanjutnya? Untuk baca novel paling favorit ini, kamu bisa membacanya melalui aplikasi novel online gratis bernama Fizzo yang bisa di unduh atau download di Play Store.

Kemudian setelah aplikasinya terinstall di HP-mu, cari di kolom pencarian dengan memasukkan judul Lengkap “Hinaan Dari Keluarga Suami” atau bisa klik link dibawah ini.

Link Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Full Episode PDF: KLIK DISINI

Setelah kamu mengklik link yang telah kami bagikan diatas, untuk memulai membaca novel ini secara gratis lengkap mulai bab 1 hingga full episode bab terakhir.

Baca Juga: Novel Impian Keluarga Bahagia

Akhir Kata

Nah, itulah dia review singkat dari SenjaNesia mengenai cara membaca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 12 Gratis Lengkap Full Episode by Rita Febriyeni. Novel ini merupakan sebuah novel terlaris dan paling favorit yang sedang viral dan sangatlah cocok untuk dibaca buat kamu yang suka novel terbaru ini dengan genre Romansa.

Bagaimana menurut kamu mengenai novel terbaru ini? Apakah novel ini memang seru untuk di baca? Silahkan berkomentar di kolom komentar dibawah.

Novel Benih Sang Pewaris

SenjaNesia
1 min read

Novel Ivanna van Dijk

SenjaNesia
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *