Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 20

Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 20

Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 20 Gratis Full Episode PDF– Mau baca novel terbaru, namun kali ini kamu belum punya ide novel apa yang harus dibaca?

Tenang saja! kamu kini bisa membaca novel online gratis melalui aplikasi novel digital maupun situs web yang menyediakan layanan membaca novel secara online dengan gratis dan juga yang berbayar.

Kini telah tersedia beragam aplikasi baca novel online yang menyediakan novel secara gratis dan bisa kamu gunakan untuk membaca novel contoh diantaranya seperti, Allnovel, MangaToon, NovelMe, NovelToon, Wattpad, Dreame dan masih banyak lagi.

Baru-baru ini ada sebuah novel karya rita febriyeni yang lagi viral dan populer menjadi best seller, sehingga banyak diminati dan dicari para pecinta novel. Judul novel yang bagus ini adalah Hinaan Dari Keluarga Suami Part 20.

Jika kamu penasaran dengan novel ini maka kami akan membagikan link dan cara baca untukmu secara gratis.

Nah, Kali ini SenjaNesia akan bagikan link baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 20 karya Rita Febriyeni secara gratis dan lengkap

Deskripsi Novel

Judul: Hinaan Keluarga Suami Part 20
Penulis: Rita Febriyeni
Penerbit: Fizzo
Genre: Drama
Bahasa: Bahasa indonesia

Sinopsis Novel Hinaan dari Keluarga Suami

Mereka menghina Rina karena hanya tamat SMP. Tak berpendidikan tinggi bukan berarti bodoh. Rina yang punya bakat menulis cerita, diam-diam terus belajar melalui grup literasi hingga dia bisa menjadi penulis top di beberapa aplikasi novel online, dan menghasil uang hingga merubah hidupnya. Bagaimana tanggapan mertua dan ipar yang dulunya menghina?

Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 20

Baru buka aplikasi baca novel online, aku dibuat takjub dan seakan tak percaya jika ada fotoku terpampang di sana. Salah satu penulis pavorit. Bahkan saat memegang ponsel, tanganku bergetar saking tak percaya. Ini seperti mimpi. Bagaimana mungkin aku bisa mencapainya karena sadar akan pendidikan tak tinggi.
“Alhamdulillah, Alhamdulillah.” Ucapan syukur bahkan sulit mengungkapkan dengan kata-kata, betapa aku sangat bahagia.
“Ada apa sih, Rin? Kok?” Mas Bayu menatapku dengan alis bertaut. Air mataku berlinang sambil tersenyum, ini air mata bahagia.
“Mas, aku, aku ada di sini.” Kusodorkan ponsel ke mas Bayu.
“Hah? Maksudnya, Rin?” Mas Bayu menerima ponselku. Lalu ia fokus melihat layar ponsel.
“Aku, aku bisa jadi penulis top, Mas. I-itu foto aku ada di sana.” Bahkan suaraku gugup karena masih merasa shock. Bagaimana mungkin aku dipilih sebagai penulis top. Aku sadar masih banyak kekurangan. Mungkin ini namanya tak percaya diri namun tetap berusaha. Entahlah, aku pun bingung dengan perasaanku.
“Masya Allah, ini benaran kamu, Rin?” Mata mas Bayu membulat.
“Aku saja masih nggak percaya, apa lagi kamu, Mas.”
“Ya Allah …, aku bangga padamu, Rin. Aku, aku tak tahu harus bilang apa. Semoga tambah sukses. Masya Allah, istriku bisa jadi penulis.” Mas Bayu memelukku.
Tuhan, aku yakin rencanamu pasti indah pada waktunya. Aku yang tidak berpendidikan tinggi. Anak orang tua yang bekerja hanya pengulung. Bahkan di usiaku yang masih muda, keadaan memaksa untuk bekerja jadi tukang cuci piring di sebuah rumah makan Padang. Di saat teman seusiaku melanjutkan ke SMA, aku hanya bisa menahan hati agar tidak sedih, karena tak punya biaya melanjutkan sekolah.
Jika aku hanya tamat SMP, semoga putraku kelak bisa meraih gelar sarjana. Karena jika tak berpendidikan tinggi, hinaan dari keluarga suami pasti terus berlanjut. Aku akan menjalani hidup ini dan juga terus berjuang. Aku yakin jika berusaha pasti ada jalan.
Kali ini karya tulisku dikontrak oleh salah satu aplikasi. Jika begini akan ada pendapatan tetap. Email masuk dan MOU untuk kontrak pun sudah kuterima. Alhamdulillah … tak pernah terbayangkan dengan rebahan di kamar atau sambil menyusui anak, aku bisa mengetik cerbung dan menerbitkannya di aplikasi novel online, sehingga menghasilkan uang.

BACA JUGA:  Novel Cinta Di Dalam Perjodohan

“Rin, Rina,” panggil ibu. Aku yang sedang membersihkan meja warung, langsung menoleh ke arah ibu.
“Ya, Bu,” jawabku.
“Kok Yana belum pulang? Biasanya jam segini ia sudah di rumah. Coba kamu telpon.” Wajah ibu tampak cemas.
Hari hampir gelap. Biasanya jam setengah lima Yana sudah di rumah. Saking sibuknya menulis sambil jaga warung, lupa jika Yana belum pulang.
“Oh iya, bentar, Bu.” Ponsel langsung kurogoh dari saku. Memencet nomor ponsel Yana, ternyata tidak aktif. Rasa cemas pun hinggap karena adikku bukan tipe yang suka keluyuran.
“Nggak aktif nomornya, Bu.”
“Coba lagi, Rin.”
Lalu kuulangi menghubungi Yana, tetap saja nomor ponselnya tak aktif.
“Tetap nggak aktif, Bu.”
“Biar kita jemput saja, Rin. Ini mau gelap,” timpal mas Bayu ikut menyimak pembicaraan ini.
Tanpa berpikir panjang, aku dan mas Bayu pergi ke tempat kerja Yana. Becak motor dilaju kencang dari biasanya. Tapi karena ini motor tahun rendah, kecepatan pun tak seperti yang diinginkan.
“Nggak bisa lebih cepat ya, Mas?” tanyaku dengan rasa khawatir makin bertambah.
“Nggak bisa, Rin. Ini mah udah yang paling kencang.” Mas Bayu tetap fokus ke depan.
Akhirnya kami sampai depan rumah Kelfin. Tapi pintu laundry sudah digembok. Kekhawatiranku makin bertambah. Kemana Yana?
“Loh, kok udah tutup, Rin?”
“Kita ketuk pintu rumah Kelfin aja, Mas.” Aku segera berlalu masuk pagar.
Di luar tampak sepi. Tak ada satu pun kendaraan parkir depan rumah ini. Lalu kudekati pintunya.
Tok tok tok!
Kuketuk pintu rumah itu. Menunggu sesaat, tak ada sahutan ataupun tanda-tanda pintu dibuka.
Tok tok tok!
Kuketuk sekali lagi. Tetap sama, tak ada tanggapan.
“Mungkin nggak ada orang, Rin,” kata mas Bayu.
“Waduh, Mas. Gimana ini? Yana ke mana?” Saking khawatirnya, aku tak tahu harus bagaimana.
“Salah kita juga tak minta nomor hp Kelfin atau pun bosnya Yana.”
Mas Bayu benar. Seharusnya aku lebih peka dengan adikku. Ia seorang gadis tak bergaul. Kegiatan sehari-hari hanya rumah dan laundry ini setelah tamat sekolah. Mungkin ini efek kesibukan sendiri hingga aku lengah menjaga Yana.
“Gimana kalau terjadi …, ya Tuhan, aku tak bisa membayangkannya, Mas.” Dadaku sesak dan air mata pun tumpah dengan khawatir yang teramat besar.
“Sabar, mm tunggu sini.” Lalu mas Bayu melangkah ke arah luar pagar.
“Mau ke mana, Mas?” Aku pun mengikuti mas Bayu.
“Kita tanya ke tetangga sebelah. Mana tau mereka lihat Yana.”
Iya ya, kok aku tidak kepikiran. Inilah efek panik menggerogoti, jalan pikir pun tak panjang. Astagfirullah’alaziim.
Kami pun mengawali ke tetangga sebelah kanan. Ini perumahan elite hingga lingkungan tampak sepi. Pagar rumah pun tinggi-tinggi. Namun yang kudengar, laundry ini termasuk banyak langganan dari penduduk sekitar.
“Assalamu’alaikum! Assalamu’alaikum!” Teriakku dari balik pagar. Tak ada tanggapan. Rumah itu juga sepi dari luar.
“Rin, bukan gitu caranya. Pencet bel itu.” Mas Bayu menunjuk sebuah tombol di dudut pagar.
“Ooh, iya, Mas.” Tanganku segera meraih bel itu.
Ini pertama kalinya aku mencoba bertamu ke rumah besar dan bagus. Biasanya hanya sekedar melihat dari jalan mengagumi bangunan indah memanjakan mata. Mungkin saja dapurnya lebih bagus dari rumah ibuku.
Tak lama kemudian, keluar seorang wanita berdaster. Lalu ia menghampiri kami. Tapi ia tetap di dalam pagar tanpa membuka agar kami masuk.
“Cari siapa, Mbak?” tanyanya.
“Maaf mengganggu, Mbak. Aku mau nanya, adikku Yana kerja di laundry sebelah. Laundry udah tutup tapi adikku belum pulang. Mbak mungkin tadi lihat adikku?”
“Oh, si Yana toh. Iya iya, tadi saat jemput baju nyonyaku, ia terburu-buru ke rumah sakit. Ibunya Den Kelfin masuk rumah sakit, Mbak.”
“Mbak tau rumah sakit mana?”
“Rumah sakit Selaguri, Mbak.”
“Makasih, Mbak. Permisi,” ucapku ingin segera pergi.
“Tunggu, Rin.” Mas Bayu menahan tanganku.
“Apa lagi sih, Mas?”
“Bentar,” jawab mas Bayu lalu mengalihkan pandangan ke mbak itu. “Mbak, nama ibunya Kelfin siapa ya?”
“Bu Meriana Handoko, Mas.”
“Makasi, Mbak,” ucap mas Bayu. Ia menanggapi tersenyum sambil mengangguk.
“Sampai di rumah sakit juga harus nanya nama pasien, Rin. Ntar nyarinya mutar-mutar, kan rumah sakit besar.”
“Oh iya ya, Mas.” Lagi, pikiranku tak panjang kali ini.
Alhamdulillah, ternyata yang dikhawatirkan sudah terjawab. Tak salah jika Yana lihat bosnya sakit. Hanya saja tak ada kabar hingga kami khawatir dan ponselnya pun tidak bisa dihubungi.
Akan tetapi, dari cara bicara mbak itu, ia seperti pembantu di rumah itu.
Kami segera menuju rumah sakit. Kali ini aku tak lagi cemas. Hari sudah gelap. Tak mungkin kubiarkan Yana pulang sendiri.

BACA JUGA:  Novel Suami Sampah Menjadi Orang Terkaya

Setelah kami bertanya ruangan pasien atas nama Merina Handoko, bagian informasi mengarahkan kami ke lantai dua, ruang inap dengan nomor 201.
“Liftnya rusak, Bu. Untuk sementara naik tangga,” ucap security saat kami berada di depan pintu lift.
“Ooh, ya, makasi, Pak,” jawabku.
Lalu kami menuju tangga.
“Atau kamu tunggu di lantai satu aja, Mas.”
Pasti mas Bayu sulit naik anak tangga, meskipun dengan bantuan tongkat.
“Nggak usah, aku bisa kok,” tolak mas Bayu. Kami mulai menaiki anak tangga.
Aku melangkah lebih dulu. Tapi mas Bayu tak kunjung menyusul. Kupalingkan ke belakang.
“Sini kubantu, Mas.” Kuulurkan tangan. Mas Bayu kesulitan menaiki tangga karena ia harus melangkah dengan tongkat.
“Nggak usah, aku bisa kok. Kamu duluan aja cari ruangannya, ntar aku nyusul.” Mas Bayu tetap berusaha menaiki anak tangga sendiri.
“Yakin nggak mau dibantu?” Ada rasa khawatir seandainya ia terpeleset.
“Iya, Rin. Lagian aku harus biasa sendiri. Anggap saja ini latihan.”
Satu hal yang kunilai dari mas Bayu kali ini, ia berusaha sendiri. Ini semacam semangat. Tapi aku suka, sebisa mungkin jangan tergantung orang lain. Selagi bisa usaha sendiri, kenapa harus minta bantuan.
Akhirnya aku sampai di lantai dua. Melihat nomor ruangan, dipastikan ruangan nomor 201 ada di lorong kiri. Karena di daun pintu kamar pertama kulihat sebelah kiri, ada nomor 200.
“Itu kamarnya,” ucapku menujuk kamar yang ke dua.
“Hey tunggu!” Terdengar seperti suara Inur.
Langkahku terhenti sebelum menggapai pintu 201. Kupalingkan ke belakang. Ternyata benar, Inur melangkah mendekat bersama Stela. Apakah mereka ingin melihat ibunya Kelfin?
“Kamu ke sini juga?” Inur menatapku. Seakan aku ini tak pantas berada di sini.
“Ini bukan rumahmu hingga harus minta izin,” jawabku ketus.
“Lah iyalah. Orang seperti kamu mana pantas ke sini, cocoknya ngulung sampah.”
“Hey, Mbak! Jangan kira berada di sini bisa menarik perhatian ibu Kelfin,” tukas Stela sinis.
“Kamu kok merasa terancam? Ada apa ya?”
“Hah? Kamu kira Yana levelku bersaing. Jangan mimpi jadi orang kaya.”
Kenapa aku merasa aneh mendengar ucapan Stela. Lagian tak ada niat buat cari perhatian ibu Kelfin. Tujuanku ingin jemput Yana. Toh Yana belum ingin nikah cepat, kok. Lagian Yana hanya berteman dengan Kelfin.
“Kamu salah, aku ke sini ingin jemput adikku. Lagian apa urusan kalian?”
“Sok dia, Mbak Inur,” ucap Stela mencemooh.
Kuhela napas besar. Ini rumah sakit dan aku harus jaga sikap agar tak mengganggu pasien.
‘Tenang, Rin, tenaaang,’ bathinku mensugesti diri.
Inur justru tersenyum sinis. Namun bola matanya naik turun melihat. Entah apa yang ia perhatikan. Rasanya tak ada yang aneh dariku.
“Ada masalah?” Aku tak suka caranya menatap.
“Tetap sama aja, katanya jual krim wajah. Tapi tetap aja wajahnya kayak gitu.”
“Mungkin krim abal-abal, Mbak, ha ha ha.” Stela terlihat senang menanggapi ucapan Inur.
Astaga, jadi ia memikirkan itu. Apa tak ada urusan lain hingga ia memperhatikan seolah aku ini saingan beratnya. Tak seatap pun masih juga mengganggu.
Tiba-tiba pintu dibuka, Kelfin dan Yana keluar.
“Kelfin, gimana Ibumu?” tanya Stela mendekatinya. Tapi saat melirik Yana, terlihat ia tak menyukai adikku.
“Sudah lebih mendingan, Stel.”
Lalu Kelfin memalingkan mata padaku. “Kak Rina juga ke sini?”
“Tadi dari laundry, kata orang sebelah rumah, kalian ke sini, Fin. Dan ….”
“Fin, kenalkan ini Mbak Inur, Kakak iparku.” Dengan bangganya Stela memperkenalkan Inur pada Kelfin, hingga memotong pembicaraanku.
“Oh, iya, aku Kelfin, Mbak,” ucap Kelfin mengulurkan tangan ke Inur.
“Mbak, ayok pulang,” ajak Yana menarik tanganku. Tapi ….
“Eh, ada Mas Bayu,” sapa Kelfin melihat ke arah belakang Inur. Tepatnya dari arah tangga. Aku yakin Stela dan Inur berpapasan dengan mas Bayu saat di tangga tadi.
Tapi, Stela dan Inur justru memalingkan muka. Mereka cuek seakan tidak mengenal suamiku.
“Maaf, Fin. Kami jemput Yana pulang. Sudah malam dan tadi ibu cemas,” jawab mas Bayu.
Kini ia sudah berdiri di sampingku.
“Nggak apa-apa, Mas. Tadi Yana bantu jagain Mamaku. Maaf bikin cemas, Mas.”
“A-apa?” Stela gugup menanggapi, tepatnya terkejut.
“Nggak apa-apa, Fin. Oh ya, boleh kami melihat ke dalam, Fin?” tanya mas Bayu.
“Sebaiknya bawa saja Yana pulang, Bayu. Kamu juga, Rin, Raka nungguin tuh. Toh ada kami di sini, kok,” timpal Inur tiba-tiba, seolah mengusir kami.
“Mbak Inur kenal Mas Bayu dan Kak Rina? Kok ngomongnya seperti udah kenal,” tanya Kelfin.
Wajah Stela langsung tegang. Mungkin ia takut ketahuan berbohong.
“Nggak kok, Fin. Mungkin Mbak ini saja yang merasa kenal aku,” jawab mas Bayu di luar dugaanku. Tumben mas Bayu melawan mereka.
“Mungkin karena kami pernah ngantar rendang. Maklumlah, Mas Bayu tak ingat kalau bukan sesuatu yang penting,” sambungku menyindir seolah Inur bukan apa-apa.
“Hah?” Mata Inur melotot. Stela pun demikian.
“Rina benar, mungkin Mbak ini merasa aku saudaranya atau saudara suaminya. Padahal kenal juga nggak.”
Astaga, mas Bayu kok bicara tidak seperti biasa.
“Lagian nih, Kak. Mbak Rina seorang penulis, jadi banyak yang kenal.” Ops! Yana pun ikut menanggapi.
“Maaf, Mbak. Anda siapa ya? Kok suka ngatur hidup orang? Jangan gitulaah, toh kita bukan saudara, jadi nggak usah sok kenal.”
Sepertinya aku juga butuh bicara dengan cara angkuh. Lumayan bisa menikmati wajah Stela makin tegang takut ketahuan.
“Lah iya lah aku kenal kamu. Kamu tu hanya anak pengulung!” Akhirnya sifat asli Inur keluar.
‘Rasakan kamu, Stela. Kakak ipar yang dibanggakan berhasil membuatmu malu depan lelaki pujaanmu.’

BACA JUGA:  Novel Terobsesi Dosen Cantik

Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Full Episode

Bagaimana kisah cerita selanjutnya? Untuk baca novel paling favorit ini, kamu bisa membacanya melalui aplikasi novel online gratis bernama Fizzo yang bisa di unduh atau download di Play Store.

Kemudian setelah aplikasinya terinstall di HP-mu, cari di kolom pencarian dengan memasukkan judul Lengkap “Hinaan Dari Keluarga Suami” atau bisa klik link dibawah ini.

Link Baca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Full Episode PDF: KLIK DISINI

Setelah kamu mengklik link yang telah kami bagikan diatas, untuk memulai membaca novel ini secara gratis lengkap mulai bab 1 hingga full episode bab terakhir.

Baca Juga: Novel Suamiku Bocah Tampan

Akhir Kata

Nah, itulah dia review singkat dari SenjaNesia mengenai cara membaca Novel Hinaan Dari Keluarga Suami Part 20 Gratis Lengkap Full Episode by Rita Febriyeni. Novel ini merupakan sebuah novel terlaris dan paling favorit yang sedang viral dan sangatlah cocok untuk dibaca buat kamu yang suka novel terbaru ini dengan genre Romansa.

Bagaimana menurut kamu mengenai novel terbaru ini? Apakah novel ini memang seru untuk di baca? Silahkan berkomentar di kolom komentar dibawah.

Novel Benih Sang Pewaris

SenjaNesia
1 min read

Novel Ivanna van Dijk

SenjaNesia
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *